Friday, 22-September-2017
sepatusandal.ucoz.com  : by Ryan Anang
Site menu
Our poll
Rate my site
Total of answers: 2
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Main » 2010 » March » 11 » Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally
10:06 AM
Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally
Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan.

Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi. Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.

Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta. "Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata AdiSasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.
 
Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesiadapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Pendapat Meutai Hatta (Salah satu anak Bung Hatta)
KESEDERHANAAN keluarga Bung Hatta serta sangat kokohnya mantan wakil presiden itu berpegang pada prinsip mungkin dapat disimak dari penuturan Meutia mengenai kisah sebuah mesin jahit. Sewaktu ayahnya masih menjadi orang nomor dua di republik ini, ternyata untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja.

Menurut antropolog dari Universitas Indonesia tersebut, ibunya -Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.  Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit. "Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Ibu kemudian bertanya pada Ayah kok tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Ayah menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri” kata istri ekonom Prof Dr Sri-Edi Swasono itu.

Pendapat Ny. Rahmi Hatta (Istri Bung Hatta)
Di tahun 1950-an, ketika Bung Hatta masih menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia, keteguhan prinsipnya kembali tercermin dalam kehidupan keluarga. Pada saat sekarang, mungkin saja peristiwa yang saya alami itu dapat direnungkan kembali.
Pada suatu waktu, uang Republik Indonesia (ORI) mengalami pemotongan. Seperti halnya para ibu rumah tangga lainnya, di masa itu saya sedang menabung karena saya berniat untuk membeli sebuah mesin jahit. Tentu dapat dibayangkan betapa kecewanya hati saya saat itu. Ketika Bung Hatta pulang dari kantor, saya mengeluh, ?Aduh, Ayah ?! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu, bahwa akan diadakan pemotongan uang ? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi.?  Keluhan wanita mungkin mempunyai alasan tersendiri. Tetapi seorang pejabat negara seperti Bung Hatta menjawab,?Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terkebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik! Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga.
Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?? Akhirnya sebagai seorang istri saya sepenuhnya dapat memahami prinsip suami saya itu. Berkat pengalaman hidup bersama bertahun-tahun, keyakinan saya terhadap prinsip Bung Hatta makin besar pula. Prinsip itu juga yang menyadarkan saya, agar saya tidak perlu menghalangi sikapnya ketika Bung Hatta berniat untuk meletakkan jabatannya sebagai wakil presiden Republik Indonesia
Views: 652 | Added by: Iyan | Tags: Bali, anak bung Hatta, prinsip, kisah, Sepatu, Mutia Hatta, Bung Hatta | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Search
Calendar
«  March 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031
Entries archive
Site friends
  • Create your own site
  • Copyright MyCorp © 2017